KISAH DUKA IBU KORBAN KECELAKAAN KERETA, SEMPAT MINTA PULANG SEBELUM MENINGGAL

Krimsus86.com Jakarta, 29 April 2026 — Duka mendalam masih menyelimuti keluarga korban kecelakaan maut yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek. Salah satu korban, Harum Anjarsari (30), meninggalkan kisah pilu yang diungkap langsung oleh sang ibu, Sri Lestari.

Di kediamannya di Cipayung, Sri Lestari menceritakan kenangan terakhir bersama putri sulungnya. Ia mengaku memiliki kedekatan yang sangat erat dengan Harum, layaknya sahabat.

Berita Lainnya

“Hubungan kami seperti teman dekat. Dia bukan hanya anak, tapi juga sahabat bagi saya,” ujar Sri, Rabu (29/4/2026).

Sri mengungkapkan, sekitar sepekan sebelum kejadian tragis tersebut, Harum sempat menghubunginya melalui telepon dan menyampaikan keinginannya untuk pulang ke rumah.

“Dia bilang ingin pulang. ‘Aku mau pulang ke rumah Mama.’ Waktu itu saya tidak menyadari bahwa itu menjadi tanda perpisahan,” tuturnya dengan suara bergetar.

Tak hanya itu, menjelang Hari Raya Idul Fitri, Harum juga meminta ibunya untuk merapikan rumah. Permintaan itu pun dituruti tanpa menyangka akan menjadi kenangan terakhir.

“Dia minta rumah dirapikan sebelum Lebaran. Kami tidak tahu itu firasat,” katanya.

Kabar duka diterima keluarga pada malam hari saat kecelakaan terjadi. Suami Harum menghubungi Sri dan mengabarkan bahwa Harum berada di gerbong kereta yang mengalami kecelakaan. Pihak keluarga kemudian melakukan pencarian ke sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi.

Kepastian mengenai kondisi Harum justru pertama kali diketahui melalui pemberitaan di televisi, sebelum adanya konfirmasi resmi dari pihak berwenang di rumah sakit.

“Nama anak saya muncul di berita. Baru kemudian diumumkan secara resmi di rumah sakit,” ungkap Sri.

Harum dikenal sebagai sosok pekerja keras dan berbakti kepada orang tua. Sejak usia muda, ia telah bekerja demi membantu keluarga dan mewujudkan impiannya membahagiakan orang tua.

“Dia selalu ingin membahagiakan kami. Banyak cita-cita yang belum tercapai,” ujar Sri.

Semasa hidupnya, Harum juga dikenal dekat dengan keluarga dan kerap menghabiskan waktu libur bersama sang ibu, termasuk menjalani hobi berburu kuliner bersama.

Harum Anjarsari dimakamkan di TPU Cipayung pada Rabu (29/4/2026) siang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama sang ibu yang kehilangan sosok anak sekaligus sahabat.

Di akhir pernyataannya, Sri Lestari berharap agar pihak PT Kereta Api Indonesia dapat meningkatkan sistem keselamatan, khususnya pada persinyalan, guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.

“Kami berharap tidak ada lagi korban seperti ini. Banyak nyawa melayang, mereka adalah para pekerja yang sedang berjuang untuk keluarga,” tutupnya.

(Wardono / Red)

Pos terkait