Krimsus86.com, Indramayu, Jawa Barat – Momentum bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial dan merajut kembali nilai-nilai cinta kasih di tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Hal tersebut disampaikan oleh Wardono Hasan Saputra, S.E., yang menuturkan bahwa esensi Ramadhan tidak hanya terletak pada ritual ibadah personal semata, tetapi juga pada peningkatan kepedulian sosial sebagai wujud keimanan yang utuh.
Menurutnya, pemahaman Ramadhan harus dimaknai secara menyeluruh. Ibadah puasa, sholat, dan amalan pribadi lainnya hendaknya sejalan dengan kehadiran nyata seorang Muslim dalam menjawab persoalan sosial di sekitarnya.
“Ramadhan adalah momentum penyucian jiwa sekaligus panggilan moral untuk menghadirkan diri dalam kehidupan sosial. Seorang Muslim tidak cukup hanya khusyuk dalam ibadah pribadi, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, Ramadhan seharusnya menjadi arena pembuktian peran umat Islam sebagai khalifatullah, yakni menghadirkan cahaya di tengah kegelapan, memperbaiki retak sosial, serta menguatkan kembali kebersamaan yang sempat terpecah.
Lebih jauh, Wardono menilai bahwa bangsa Indonesia saat ini membutuhkan semangat Ramadhan sebagai penjernih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah dinamika sosial, politik, serta perbedaan pandangan yang kerap memicu gesekan, nilai-nilai Ramadhan diharapkan mampu meredam konflik dan memperkuat persatuan.
Ia menekankan pentingnya menjernihkan informasi, menghindari provokasi, serta membangun dialog yang sehat demi mencegah perpecahan sosial dan disintegrasi bangsa.
“Momentum Ramadhan harus menjadi ruang refleksi bersama. Apakah konflik dan perpecahan yang terjadi hari ini sebanding dengan risiko rusaknya persatuan? Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, menjernihkan hati, dan mengedepankan kasih sayang,” tambahnya.
Wardono juga menegaskan bahwa peran pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat sangat penting dalam menciptakan suasana yang sejuk dan kondusif selama bulan suci. Kepemimpinan yang meneduhkan dinilai mampu membangun atmosfer kebangsaan yang lebih harmonis.
Dengan demikian, Ramadhan diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan benar-benar menjadi momentum transformasi spiritual dan sosial demi terwujudnya masyarakat yang lebih adil, damai, dan berkeadaban.
Oleh: Wardono Hasan Saputra, S.E. – Korwil Jawa Barat
Editor: Korwil Jawa Barat
Media: Krimsus86.com






