Menebar Kebahagiaan, Bukan Merusaknya,salam damai itu indah yang di cintai allah swt

Krimsus86.com – Indramayu. Jawa Baray Minggu  7 Desember 2025 Suatu ketika, Nabi Saw. pernah ditanya oleh seseorang, “Siapakah orang yang paling dicintai Allah?” Beliau bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang Mukmin (yaitu dengan cara): melepaskan bebannya, membayarkan utangnya dan menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku yang Muslim demi memenuhi kebutuhannya adalah lebih aku sukai daripada beritikaf di masjid selama dua bulan. Siapa saja yang menahan amarahnya (kepada saudaranya), Allah akan menutupi aibnya (pada Hari Kiamat), siapa saja yang menahan diri dari membalas dalam keadaan dia mampu membalas, Allah akan memenuhi kalbunya dengan ridha-Nya. Siapa saja yang berjalan menyertai saudaranya yang Muslim demi memenuhi suatu kebutuhannya hingga dia mampu meneguhkan keadaannya, Allah akan meneguhkan kedua kakinya pada Hari Kiamat nanti pada saat banyak kaki-kaki manusia tergelincir. Sesungguhnya keburukan akhlak benar-benar bisa merusak amal.” (HR ath-Thabrani).

Rangkaian hadis yang panjang tersebut, jika diambil intinya adalah bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah menghadirkan serta menebarkan rasa bahagia kepada sesama.

Berita Lainnya

Ya, menebarkan kebahagiaan adalah amalan mulia. Di tengah kondisi masyarakat yang gamang, mudah tersulut emosinya karena hal-hal sepele, lekas tersinggung karena suatu ucapan atau tindakan tertentu, maka kehadiran manusia-manusia yang mampu menentramkan batin, menenangkan jiwa, serta mendamaikan hati adalah sebuah anugerah.

Betapa bahagianya kehidupan orang-orang yang gemar menebar kebahagiaan terhadap sesama. Mereka akan selalu diliputi oleh kebaikan dan keberkahan, karena Allah sangat mencintai mereka. Allah sangat bangga dengan perilaku hamba-hamba-Nya yang penuh cinta dan kasih sayang terhadap sesamanya.

Ironisnya, dalam kehidupan sehari-hari kita lebih sering menjumpai orang-orang yang alih-alih menebar kebahagiaan, tetapi justru merusak bahkan menghancurkannya. Mereka ini adalah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat beragam penyakit. Bukan penyakit fisik, tetapi penyakit non-fisik (batin).

Adapun beberapa penyakit hati yang biasa menghinggapi diri setiap manusia antara lain: sombong (takabbur), iri dan dengki (hasad), riya, buruk sangka (su’uzhan), dendam, bakhil, dan lain-lain.

Kesombongan adalah penyakit hati paling laten. Iblis adalah tokoh utamanya. Sebagaimana dikisahkan oleh Al-Qur’an dalam sejumlah ayatnya, bahwa ketika Allah memerintahkan Iblis untuk sujud kepada Adam a.s., yang nota bene ‘makhluk kemarin sore’, Iblis secara tegas menolaknya. Karena ia merasa lebih baik dari Adam. Inilah kesombongan pertama kali yang pernah ada. Iblis yang diciptakan dari api merasa lebih baik daripada adam yang diciptakan dari tanah. Atas sikap pembangkangannya itulah akhirnya Iblis diusir dari surga dan menjadi musuh abadi manusia.

Ciri dari kesombongan adalah ‘merasa lebih baik dari yang lain’. Orang-orang sombong merasa dirinya lebih baik dari orang lain dalam segala hal; kekayaan, ilmu, kedudukan, nasab, dan lain sebagainya. Orang-orang sombong tidak pernah mau mengakui kebaikan dan kesuksesan orang lain. Mereka, alih-alih menebar kebaikan dan kebahagiaan, justru merusak dan menghancurkannya.

Iri dan dengki (hasad) adalah penyakit hati yang tidak kalah membahayakan. Penyakit ini bisa merusak dan menghancurkan kebahagiaan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Orang yang memiliki rasa iri dan dengki tidak pernah senang melihat orang lain bahagia. Tetapi justru senang ketika melihat orang lain menderita. Pengertian sederhana dari penyakit hati yang satu ini adalah: “Susah melihat orang senang, senang melihat orang susah.”

Penyakit hati selanjutnya yang akan merusak diri dan amal kita adalah riya. Riya biasa dia.

Sifat selanjutnya yang merupakan bagian dari penyakit hati adalah bakhil alias kikir. Ya, orang yang bakhil adalah orang yang enggan membelanjakan hartanya, bahkan untuk kepentingan dirinya sendiri. Ada rasa sayang yang berlebihan terhadap harta yang dimilikinya. Orang-orang bakhil ini, jangankan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain dengan cara memberi sedekah atau bantuan yang bersifat materi, bahkan untuk dirinya sendiri mereka berat membelanjakan hartanya. Sikap bakhil ini alih-alih menghadirkan rasa bahagia, justru akan memunculkan penderitaan dalam diri seseorang. Dia selalu cemas dan khawatir dengan kekayaannya. Yang ada di dalam benaknya adalah bagaimana mempertahankan kekayaan yang dimilikinya agar tidak pernah berkurang, bahkan kalau bisa terus bertambah.

Pewarta:Wardono HS.SE

Sumber :Korwil prov.jabar

Editor : Media krimsus86.com

Pos terkait