Krimsus86.com/KARAWANG –
Di tengah tekanan fiskal dan ancaman tergerusnya anggaran pembangunan, sebuah keputusan besar lahir dari Gedung Singaperbangsa. Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, memilih menempuh jalan paling sunyi: merampingkan struktur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) demi menghemat hingga Rp 100 miliar.
Sebuah kebijakan yang sebelumnya sempat menuai pujian dari Wamendagri Bima Arya, namun tak sedikit pula yang menilai langkah itu terlalu berani—bahkan berisiko menggerus popularitas sang bupati.
Penggabungan Disperindagsar dengan Dinas Koperasi dan UMKM, serta dileburnya Dinas Perikanan ke dalam Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, menjadi pukulan bagi banyak pejabat yang terancam kehilangan jabatan strategis. Namun Bupati Aep sudah menghitung semuanya, termasuk potensi kebencian dari internal birokrasi.
“Saya tahu dampaknya. Pasti akan banyak pejabat yang membenci saya. Tapi ini harus saya lakukan, agar pembangunan tetap berjalan dan bisa dirasakan masyarakat,” ujar Bupati Aep dalam perbincangannya dengan Ketua PERADI Karawang, Asep Agustian SH. MH, Jumat (21/11/2025).
Baginya, tekanan pemotongan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat adalah ancaman nyata. Dan efisiensi bukan lagi pilihan—melainkan keharusan. Selain merampingkan OPD, sejumlah jabatan Kasi hingga tingkat kecamatan juga dipangkas. Itu pula yang menjadi dasar mengapa Bupati Aep tak menyentuh Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).
“Tetapi saya minta komitmennya. Kalau TPP tidak dipotong, kinerja juga harus meningkat. Pelayanan kepada masyarakat harus makin baik,” tegasnya.
Dukungan datang dari Ketua PERADI Karawang, Asep Agustian—akrab disapa Askun. Dengan lantang ia menyatakan bahwa keberanian lebih penting daripada popularitas sesaat.
“Gak apa-apa dibenci pejabat, yang penting dicintai rakyat. Pada akhirnya masyarakat sendiri yang akan menilai apa yang dilakukan Pak Bupati,” tutur Askun.
Setelah berdiskusi panjang, Askun menegaskan satu hal: Bupati Aep adalah pemimpin yang tidak terjebak pencitraan. Kritik dan nyinyiran di media sosial tak membuatnya goyah.
“Beliau tidak terlalu memikirkan soal itu. Beliau fokus pada kerja-kerja pembangunan yang sudah direncanakan,” katanya.
Bahkan, lanjut Askun, Bupati Aep adalah sosok yang terbuka dan mudah diajak berdiskusi. Ia memprioritaskan sinergi, termasuk dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Tadi saya dengar sendiri beliau menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi karena telah banyak membantu Karawang. Artinya, sinergitas ini benar-benar dijaga,” ujarnya.
Meski masih ada suara-suara sumbang dari sebagian kecil publik, PERADI menegaskan dukungan total terhadap kebijakan efisiensi tersebut.
“Pak Bupati jangan takut dibenci pejabat. Yang penting maju terus. Mari sama-sama berbuat yang terbaik untuk Karawang Maju,” tutup Askun penuh penegasan.
Sebuah pesan yang menyiratkan bahwa langkah tak populer kadang justru menjadi fondasi paling kokoh bagi kemajuan sebuah daerah.
(Aj)*






