Dua Proyek Mangkrak, Kritik Menggema: Kabid SDA Karawang Disorot dalam ‘Lingkaran Setan’ APBD

Krimsus86.com/KARAWANG —

Publik kembali dibuat menggelengkan kepala. Pola lama dalam pengelolaan proyek yang bersumber dari anggaran pemerintah—baik pusat maupun daerah—lagi-lagi menampakkan wajahnya. Bukannya menunjukkan perbaikan, sejumlah pekerjaan fisik justru kembali terseret drama klasik: perencanaan terburu-buru, pelaksanaan terkesan asal jadi, pengerjaan yang molor, hingga hasil akhir yang diragukan ketahanannya.

Berita Lainnya

Fenomena yang terus berulang ini membuat masyarakat menyebutnya sebagai “proyek lingkaran setan APBD”. Anggaran digelontorkan setiap tahun, namun persoalannya tetap itu-itu saja. Dan kini, dua proyek besar di Karawang kembali masuk dalam sorotan publik lantaran dianggap sebagai produk dari pola berulang tersebut.

Proyek Sabuk Pantai Muara Pakisjaya dan pekerjaan Jetty Muara Sedari—yang menelan anggaran hingga Rp2,4 miliar—dinilai tengah berjalan di jalur yang sama: terlambat, tidak matang dalam perencanaan, dan dinilai mustahil selesai tepat waktu.

“Dari awal saya sudah mengkritisi proyek sabuk pantai Pakisjaya. Pekerjaannya molor karena pilihan atau penunjukan dari Kabid Pentahelix alias Kabid SDA PUPR Karawang. Sekarang ada lagi Jetty Muara Sedari yang anggarannya lebih besar, tapi juga molor. Dua proyek ini impossible selesai di akhir Desember 2025,” ujar pengamat kebijakan, Asep Agustian alias Askun, Selasa (18/11/2025).

Dengan nada satir, Askun menyebut Kabid SDA sebagai “kabid mimpi yang terlalu sering berhalu”, sehingga proyek-proyek teknis justru tak berjalan sesuai rencana.

Tak berhenti di situ, Askun juga mempertanyakan latar belakang kontraktor pelaksana proyek Jetty, CV Cakra Buana Utama.
“Itu CV darimana datangnya? Pilihan siapa? Penentunya siapa? Apakah sudah dipikirkan secara akademis dan teknis bahwa proyek ini tidak mungkin diselesaikan? Lalu bagaimana nasib proyeknya nanti?” tegasnya.

Askun bahkan menyindir penyelesaian proyek tersebut seperti meminta Sangkuriang membuat Tangkuban Perahu hanya dalam satu malam.

“Ingat ya, Kabid SDA jangan kebanyakan halu. Jangan bicara sok akademisi, jangan bicara sok pentahelix atau lingkaran setan, karena justru dalam pentahelix itu setannya lengkap semua,” ucapnya pedas.

Ketidakpuasan Askun terhadap kinerja Kabid SDA, Aries, sudah ia suarakan berulang kali. Dirinya bahkan mendesak Bupati Karawang untuk segera mengevaluasi dan memindahkan Aries dari posisinya.
“Orang seperti ini masih pantaskah dipertahankan? Sudah tidak pantas. Lepaskan saja, pindahkan ke tempat yang cocok untuk berhalu atau berteori, bukan di tempat teknis,” katanya tegas.

Askun juga mengapresiasi rencana Ketua LMP Mada Jawa Barat, H. Awandi Siraj, yang berencana menggelar audiensi atau aksi demonstrasi terkait dugaan lambannya kinerja Kabid SDA.
“Itu hak mereka. Silakan saja demo. Saya tidak ada urusan dengan itu. Intinya, mimpi-mimpi yang dijanjikan ternyata tidak terbukti. Katanya proyek sabuk pantai mau diputus kontrak, putus apanya? Faktanya tidak diputus. Padahal progres pekerjaan baru 20 persen,” pungkasnya.

Gelombang kritik kini semakin menguat. Masyarakat menunggu, apakah pemerintah daerah akan tetap membiarkan pola lama terus berulang, atau akhirnya memutus mata rantai “lingkaran setan” yang telah lama menghantui proyek-proyek APBD di Karawang.

(Red)*

Pos terkait