Krimsus86.com, Lampung — Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela Chalim, menjadi sorotan publik terkait dugaan pasang badan untuk kakak kandungnya, Hj. Chusnunia Chalim, yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPR RI, menyusul mangkraknya proyek pembangunan Jembatan Kali Pasir Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, dengan nilai anggaran mencapai Rp29 miliar.
Proyek pembangunan jembatan tersebut dilaksanakan pada tahun 2018, saat Kabupaten Lampung Timur dipimpin oleh Chusnunia Chalim sebagai bupati periode 2016–2021. Chusnunia kemudian mengundurkan diri setelah terpilih sebagai Wakil Gubernur Lampung pada Pilkada 2018 dan dilantik pada 2019.
Dugaan tersebut mencuat setelah beredarnya sebuah video di media sosial yang menarasikan bahwa Wakil Gubernur Lampung menelepon warga yang memprotes kondisi jembatan dan meminta agar proses perekaman dihentikan. Namun demikian, Wakil Gubernur Lampung secara tegas membantah tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah.
Melalui akun Instagram pribadinya pada 28 Januari 2026, Jihan Nurlela Chalim menyampaikan klarifikasi serta apresiasi atas perhatian masyarakat terhadap persoalan tersebut. Ia menegaskan bahwa pembangunan jembatan permanen tidak diabaikan oleh pemerintah.
“Pembangunan jembatan permanen merupakan kewenangan pemerintah kabupaten dan membutuhkan anggaran besar serta dukungan lintas pemerintah. Pemerintah Provinsi Lampung telah mengusulkan dukungan ke pemerintah pusat sejak tahun 2025, dan survei lapangan juga telah dilakukan oleh balai teknis terkait,” tulisnya.
Ia juga menjelaskan bahwa secara teknis pembangunan jembatan belum dapat direkomendasikan karena pertimbangan keselamatan, termasuk adanya potensi longsor di sekitar lokasi sehingga desain konstruksi perlu disusun ulang.
“Sambil menunggu pembangunan permanen, keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Gubernur Lampung bersama Panglima Kodam II/Sriwijaya mendorong pembangunan Jembatan Merah Putih sebagai solusi sementara, yang ditargetkan dapat difungsikan pada Semester I Tahun 2026,” tambahnya.
Sementara itu, berdasarkan keterangan warga Kecamatan Way Bungur, kondisi akses penghubung antardesa hingga saat ini masih jauh dari harapan. Jembatan Kali Pasir yang digadang-gadang sebagai urat nadi aktivitas masyarakat telah terbengkalai selama bertahun-tahun tanpa kejelasan penyelesaian.
Sejak pembangunan dimulai pada 2018, proyek tersebut diketahui telah mengalami pergantian kontraktor sebanyak tiga kali. Salah satu kontraktor bahkan sempat tersandung kasus hukum terkait dugaan tindak pidana korupsi. Hingga kini, di lokasi hanya tersisa tiang beton dan rangka besi yang berkarat di tengah aliran sungai.
Akibat belum rampungnya jembatan, aktivitas pendidikan pun terdampak. Para guru dan siswa terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu dayung setiap hari. Pada musim hujan, kondisi menjadi semakin berbahaya akibat meningkatnya debit air.
“Kalau banjir, anak-anak tidak berani berangkat sekolah. Kami khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar salah seorang warga, Jumat (30/1/2026).
Warga menilai permasalahan ini tidak hanya menyangkut akses transportasi, tetapi juga keselamatan dan masa depan generasi muda. Mereka mendesak pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk segera menghadirkan solusi konkret, bahkan berharap adanya perhatian langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
“Jembatan ini bukan sekadar bangunan, tetapi penyambung hidup kami. Kami butuh kepastian kapan jembatan ini benar-benar selesai,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Jembatan Kali Pasir Way Bungur masih dalam kondisi terbengkalai. Sementara itu, guru dan siswa di wilayah tersebut terus berjuang menyeberangi sungai demi mengakses pendidikan, menunggu kepastian dan keadilan yang diharapkan segera terwujud.
Tim Media Group PWDPI






