Krimsus86.com |Karawang —
Apresiasi dan kritik tajam mengemuka di penghujung tahun 2025. Praktisi Hukum sekaligus Pengamat Kebijakan, Asep Agustian, SH., MH., memberikan penilaian berimbang terhadap kinerja pemerintahan Aep–Maslani, khususnya dalam sektor infrastruktur yang dinilai telah melahirkan sejumlah proyek monumental dan ikonik yang membanggakan masyarakat Karawang.
Asep Agustian menilai pembangunan Underpass Gorowong Warungbambu serta revitalisasi GOR Panatayudha yang telah diresmikan langsung oleh Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh (Jiep) menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan perubahan dan kemajuan infrastruktur. Proyek-proyek tersebut, menurutnya, bukan hanya simbol pembangunan, tetapi juga harapan baru bagi mobilitas dan aktivitas sosial masyarakat.
Namun di balik capaian tersebut, Asep Agustian menegaskan masih terdapat persoalan serius yang tak boleh ditutup mata. Ia mengkritik keras sejumlah proyek di bawah Dinas PUPR Karawang yang tak mampu diselesaikan hingga akhir tahun 2025. Salah satunya adalah proyek Sabuk Pantai (Sea Wall) di Muara Pantai Pakisjaya, yang berada di bawah naungan Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Karawang.
Proyek senilai Rp 900 juta yang dikerjakan oleh CV. Mazel Arnawama Indonesia tersebut diketahui mengalami keterlambatan signifikan dan tidak mampu diselesaikan dalam batas waktu 90 hari kalender. Hingga akhir tahun, progres pengerjaan baru mencapai 56 meter dari total 80 meter, sehingga proyek tersebut terpaksa dihentikan sementara.
“Atas kondisi ini, saya minta Bupati Aep melakukan evaluasi total terhadap kinerja Bidang SDA Dinas PUPR Karawang,” tegas Asep Agustian, Selasa (30/12/2025).
“Di satu sisi kita bangga dengan proyek-proyek monumental yang sudah diresmikan Pak Bupati. Tapi di sisi lain masih ada duri dalam sekam, kinerja pejabat dinas yang lamban seperti keong,” sambungnya dengan nada kritis.
Ketua DPC PERADI Karawang ini bahkan menyindir keras para pejabat yang dinilainya tak mampu mengikuti ritme kerja cepat Bupati.
“Pejabat yang tidak bisa gaspol mengikuti kebijakan Bupati Jiep, lebih baik mundur saja. Jangan menghambat laju pembangunan. Mutasi saja ke kecamatan, biar bisa evaluasi diri. Jangan sampai bupatinya sudah lari kencang, tapi pejabatnya masih merayap,” sindirnya tajam.
Sementara itu, menurut informasi, Tim Audit Dinas PUPR Karawang telah menghentikan sementara pengerjaan proyek sabuk pantai tersebut. Hingga berita ini diturunkan, Adam, yang mengaku sebagai Direktur CV. Mazel Arnawama Indonesia, masih sulit dikonfirmasi oleh awak media terkait keterlambatan proyek. Hal serupa juga terjadi pada Kabid SDA Dinas PUPR Karawang, Aries Purwanto, yang belum memberikan keterangan resmi.
Padahal sebelumnya, Aries sempat menyampaikan optimisme bahwa proyek sabuk pantai akan rampung tepat waktu.
“Insya Allah, on progres dan bisa selesai sesuai waktu,” ujarnya kala itu.
Menanggapi hal tersebut, Asep Agustian—yang akrab disapa Askun—kembali melontarkan kritik pedas. Ia menilai optimisme tersebut tak sejalan dengan realitas di lapangan.
“Nyatanya, di akhir tahun 2025 proyek itu belum memberi manfaat apa pun bagi masyarakat. Sejak awal saya sudah bilang, proyek ini tidak akan selesai tepat waktu, karena saya melihat langsung progresnya,” ujar Askun.
Bahkan, ia menyebut Kabid SDA terlalu larut dalam mimpi dan asumsi.
“Katanya akademisi, tapi tidak mampu menghitung dan mengantisipasi tenggat waktu secara ilmiah. Terlalu banyak mimpi dan halu,” tutup Askun, menyindir keras kinerja pejabat teknis yang dinilainya gagal menjalankan amanah pembangunan.
Narasi ini mencerminkan kontras tajam antara kebanggaan atas proyek-proyek besar Karawang dan kekecewaan publik terhadap kinerja birokrasi yang dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan semangat percepatan pembangunan daerah.
(Red)*






