Bedah Buku “Alter Ego Listyo Sigit Presisi”, Prof. Hermawan Bahas Dinamika Kebijakan Kapolri di Tengah Reformasi Polri

Krimsus86.com, Jakarta – Bedah buku Alter Ego Listyo Sigit Presisi: Sebuah Biografi Kebijakan digelar di Auditorium Mutiara STIK Lemdiklat Polri, Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog akademik yang membahas dinamika reformasi Polri dan kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Penulis buku, Prof. Hermawan Sulistyo, menegaskan bahwa karya tersebut dibuat untuk meluruskan persepsi publik yang keliru terkait sejumlah kebijakan Kapolri, termasuk anggapan adanya insubordinasi terhadap Presiden.

Berita Lainnya

“Ada mispersepsi bahwa semua ini seolah diorkestrasi dan Kapolri dianggap membangkang Presiden. Itu keliru. Tim Reformasi Polri sudah dibentuk jauh sebelum ada keputusan pemerintah. Polri adalah bagian dari pemerintah,” ujar Prof. Hermawan.

Menurutnya, buku ini juga mengulas keputusan strategis dan taktis Kapolri dalam situasi sulit, khususnya penanganan kasus besar yang berdampak pada institusi.

“Bagaimana seorang Kapolri harus mengambil keputusan sulit untuk menyelamatkan institusi, itu tidak mudah. Buku ini tidak untuk memuji, tapi untuk mendudukkan keputusannya secara proporsional,” jelas Prof. Hermawan.

Ia menambahkan, ketegasan Kapolri yang terlihat dalam forum resmi kerap disalahartikan sebagai sikap membangkang.

“Kapolri juga bisa tegas. Ketegasan itu bukan pembangkangan. Pembangkangan baru terjadi jika Presiden sudah memutuskan A, lalu Kapolri mengatakan B,” tegasnya.

Sementara itu, mantan Kalemdiklat Polri Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana menekankan pentingnya memahami konteks demokrasi dalam melihat posisi Polri sebagai polisi sipil.

“Polisi adalah polisi sipil dalam negara demokrasi. Polisi demokratis menjalankan supremasi hukum, menjamin hak asasi manusia, serta bekerja secara transparan dan akuntabel,” jelas Komjen Pol. Chryshnanda.

Ia menambahkan, reformasi Polri adalah proses berkelanjutan yang harus ditempatkan dalam kerangka dialog demokratis.

“Kalau kita negara demokrasi, berarti ada ruang dialog dan diskusi. Peganglah demokrasi itu dengan baik dan benar,” pungkasnya.

Kegiatan bedah buku ini dihadiri para akademisi, pejabat Polri, dan mahasiswa STIK Lemdiklat Polri, sebagai upaya memperluas pemahaman mengenai kepemimpinan Polri dan dinamika kebijakan di tengah proses reformasi.

Sumber: Dapid KBR & Team FRIC Muara Enim

Media: Krimsus86.com

Pos terkait