Antara Mimpi Kolaborasi dan Realita Proyek yang Mandek

Krimsus86.com/KARAWANG –
Gema konsep pentahelix yang digadang-gadang sebagai mahakarya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, bisnis, masyarakat, dan media kini justru memantul balik seperti cermin retak di tubuh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Karawang.

Sosok Aries Purwanto, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR, yang semula dielu-elukan karena visi kolaboratifnya lewat jargon pentahelix, kini menjadi sorotan tajam publik. Pasalnya, di balik narasi manis “sinergi lima unsur pembangunan”, muncul sederet proyek bermasalah, mulai dari mutu pekerjaan yang rendah hingga keterlambatan progres yang mencolok.

Berita Lainnya

Salah satu proyek yang kini menjadi buah bibir adalah pembangunan sabuk pantai atau penahan abrasi di Muara Pakisjaya, Kecamatan Pakisjaya. Proyek senilai Rp903 juta lebih yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun Anggaran 2025 itu disebut-sebut tersendat sejak pelaksanaannya dimulai pada September lalu. Hingga kini, bayang-bayang keterlambatan kian nyata.

Asep Agustian SH, MH, pengamat kebijakan publik sekaligus Ketua DPC Peradi Karawang, tak bisa menutupi kekecewaannya. Dengan nada getir dan sarkas, ia menyebut konsep pentahelix yang dibanggakan Aries hanya berhenti pada tataran wacana.

“Inilah produk pentahelix versi mimpi. Dia (Aries) yang membangga-banggakan konsep itu, dia juga yang memilih pelaksana proyeknya. Kalau sekarang hasilnya amburadul, jangan pura-pura kaget,” ujarnya pedas, Rabu (5/11/2025) pagi.

Askun, sapaan akrab Asep Agustian SH, MH menuding Aries tidak memahami medan teknis yang digelutinya. Menurutnya, latar belakang akademisi tidak serta-merta menjamin kemampuan teknokratis di lapangan.

“Akademisi itu bergelut dengan teori dan konsep, sementara teknisi bekerja dengan presisi dan realita. Ini proyek teknis, bukan ruang seminar,” tegasnya.

Ia bahkan menyindir keras, jika proyek sabuk pantai tersebut bisa selesai hanya dalam dua bulan tersisa, maka itu tak ubahnya kisah dongeng Sangkuriang, yang membangun gunung dalam semalam.

“Kalau proyek itu selesai, berarti kita hidup di negeri dongeng. Jangan mimpi! Ini sudah karut-marut dari perencanaan sampai ke pengadaan material,” sindirnya tajam.

Kemarahan Askun tak berhenti di situ. Ia menilai Aries sudah tak pantas lagi memimpin Bidang SDA.

“Aries ini bukan Kabid SDA, tapi Kabid Pentahelix, penuh mimpi tapi minim bukti. Saya minta Bupati segera evaluasi dan mutasikan dia. Jangan biarkan SDA Karawang dikorbankan karena ego konseptual,” tandasnya.
Menanggapi tudingan tersebut, Aries Purwanto tak menampik adanya keterlambatan. Ia mengakui pelaksana proyek, CV Mazel Arnawama Indonesia (MAI), tengah menghadapi kendala suplai material.

“Kami sudah memanggil pihak pelaksana dan memberikan Surat Peringatan (SP) 1. Jika dalam satu pekan progres fisik masih di bawah 10 persen, kontraknya akan kami putus,” kata Aries menegaskan.

Ia menambahkan, Dinas PUPR akan terus memantau situasi di lapangan agar proyek bisa kembali ke jalur semestinya.

Namun di tengah sorotan tajam publik, janji itu terdengar bagai gema di tengah angin pantai Pakisjaya, nyaring tapi samar. Warga menunggu, apakah pentahelix yang digadang sebagai simbol kolaborasi bisa benar-benar berdiri kokoh di atas pasir realita, atau justru ambruk diterjang ombak ketidakmampuan.

(Red)*

Pos terkait