Krimsus86.com/Subang, _
Di tengah fungsi vital ambulans desa sebagai kendaraan penyelamat nyawa—mengantar pasien rujukan, ibu hamil, kondisi darurat kesehatan, hingga jenazah warga—pemandangan berbeda justru terjadi pada Rabu, 8 April 2026. Sebuah mobil ambulans bertuliskan Desa Talagamulya, Kecamatan Telagasari, terlihat melintas di jalur Pantura sebelum menepi di sisi jalan.
Sorotan publik pun muncul ketika diketahui kendaraan yang seharusnya menjadi simbol layanan kemanusiaan itu membawa tiga orang penumpang di bagian depan, tanpa adanya tanda-tanda situasi medis darurat. Situasi ini memantik pertanyaan besar: untuk kepentingan apa ambulans desa digunakan?
Saat dikonfirmasi, petugas desa yang belakangan diketahui bernama Wakil Gobed, lengkap mengenakan atribut kedinasan, yang bertindak sebagai supir, di dampingi Dua Orang perempuan yang duduk di depan, menjelaskan bahwa keberadaan mereka berkaitan dengan persoalan penting menyangkut warga Desa Talagamulya yang berada di Desa Salam Jaya, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, saat itu sedang ditangani pihak Polsek Pabuaran.
“Mobil nya nggak ada lagi pak, untuk membantu warga kami yang tidak mampu yang lagi ada masalah”. Ucapnya
Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, tim media kemudian mendatangi Polsek Pabuaran. Dari pihak kepolisian diperoleh penjelasan yang cukup mengejutkan.
“Memang ada yang ke sini, Pak. Memakai kendaraan Ambulance Desa Talagamulya.
Keluarga dari pelaku kejahatan, dan sekarang lagi diurus keluarganya,” ungkap petugas.
Keterangan itu menguatkan bahwa warga yang tengah bermasalah hukum tersebut memang berasal dari Desa Talagamulya, Karawang. Penanganannya pun disebut sedang difasilitasi oleh Kepala Desa Salam Jaya, .
Saat dimintai keterangan Kepala Desa Salamjaya Ujang Sucipto, membenarkan adanya warga dari Desa Talagamulya Karawang yang diduga melakukan tindak kejahatan di wilayah desanya.
“Kami akan mengadakan pertemuan malam ini dengan para korban, yang merupakan pengurus musholla dan masjid di wilayah Desa Salam Jaya yang menjadi lokasi kejahatannya. Apakah akan dilanjutkan ke kepolisian atau tidak, itu akan dibahas bersama,” ujarnya.
Peristiwa ini sontak memantik keprihatinan masyarakat. Ambulans desa yang semestinya selalu siaga untuk kepentingan medis dan sosial kemanusiaan justru diduga dipakai untuk mengurus persoalan keluarga pelaku tindak pidana.
Di saat banyak warga desa bergantung pada kecepatan layanan ambulans untuk keselamatan jiwa, penggunaan kendaraan tersebut di luar fungsi utamanya tentu menimbulkan pertanyaan etik dan moral.
Lebih dari sekadar soal kendaraan, ini menyangkut amanah fasilitas publik yang dibiayai untuk kepentingan rakyat.
Ketika ambulans dipakai bukan untuk pasien, bukan untuk ibu melahirkan, dan bukan pula untuk jenazah, maka yang dipertaruhkan bukan hanya prosedur, tetapi juga rasa keadilan masyarakat yang berharap fasilitas desa digunakan tepat sasaran.
Kini publik menanti penjelasan resmi dari pihak Pemerintah Desa Talagamulya, agar tidak muncul preseden buruk bahwa kendaraan layanan darurat dapat digunakan untuk kepentingan di luar fungsi kemanusiaannya.
(Red)*






