Krimsus86.com |Bandar Lampung — Tepuk tangan panjang menggema di lokasi perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (PWDPI), saat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PWDPI, M. Nurullah RS, dinobatkan sebagai Tokoh Pers Nasional.
Penghargaan ini diberikan dalam rangkaian acara yang berlangsung selama tiga hari, 20–22 September 2025, sebagai pengakuan atas perjalanan panjang dan konsistensinya memperjuangkan pers yang berpihak pada kepentingan publik.
Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan penegasan atas dedikasi Nurullah dalam membangun organisasi wartawan yang solid, berintegritas, dan berani bersuara untuk rakyat.
Di hadapan ribuan peserta yang hadir, Nurullah menyampaikan rasa terima kasih dengan nada haru. Ia menegaskan bahwa capaian ini bukan milik pribadi, melainkan hasil kerja kolektif seluruh insan pers yang setia mengawal kebenaran.
“Penghargaan ini bukan hanya untuk saya, tetapi untuk seluruh wartawan yang tetap berdiri tegak di tengah tekanan, demi menjaga nurani publik dan kemajuan bangsa,” ujarnya.
Perayaan HUT ke-3 PWDPI sendiri menjadi panggung kebersamaan sekaligus refleksi peran pers di era perubahan. Lebih dari 1.000 peserta dari 30 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) se-Indonesia hadir dalam apel akbar, konferensi pers, diskusi panel isu-isu aktual media, hingga bazar UMKM yang memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk tumbuh.
Momentum ini memperlihatkan wajah pers yang tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga hadir nyata di tengah denyut ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Jejak perjuangan M. Nurullah RS tak lepas dari sejarah panjang bangsa.
Dikenal sebagai aktivis reformasi 1998, ia melanjutkan idealismenya ke dunia pers dengan mendirikan sejumlah media lokal. Di bawah kepemimpinannya, PWDPI berkembang pesat dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana advokasi dan penguatan suara wartawan. Salah satu inisiatif yang menonjol adalah kampanye #WartawanUntukRakyat, yang mendorong jurnalisme lebih peka terhadap isu-isu masyarakat bawah.
Penganugerahan Tokoh Pers Nasional ini menjadi penanda bahwa pers bukan hanya profesi, melainkan panggilan pengabdian. Melalui PWDPI, Nurullah dan para wartawan di seluruh Indonesia terus menegaskan satu pesan penting: pers yang kuat adalah pers yang berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat.
(Red)*






