PENGALAMAN AKTIVIS REFORMASI 1998 MEMBENTUK GAYA KEPEMIMPINAN KETUM PWDPI YANG PEDULI RAKYAT

Krimsus86.com- Jakarta, 3 Januari 2026 – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (PWDPI), M. Nurullah RS, menegaskan bahwa pengalaman perjuangannya sebagai aktivis reformasi 1998 menjadi fondasi utama dalam membentuk gaya kepemimpinan dan kiprahnya di dunia pers hingga saat ini.

Nurullah dikenal tidak hanya sebagai pimpinan organisasi wartawan nasional, tetapi juga sebagai aktivis reformasi yang terlibat langsung dalam berbagai aksi masyarakat pada tahun 1998. Saat itu, ia aktif menyuarakan aspirasi rakyat dan menyebarkan informasi perjuangan melalui media cetak serta komunikasi langsung di tengah keterbatasan teknologi.

Berita Lainnya

“Pada masa reformasi, kami sangat bergantung pada koran cetak dan jaringan komunikasi langsung. Dari situlah saya belajar bahwa media memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik dan mengawal keadilan,” ujar Nurullah, Rabu (3/1/2026).

Pasca reformasi, Nurullah memilih berkiprah di dunia pers dengan mendirikan sejumlah media lokal. Dedikasinya tersebut mengantarkannya terpilih sebagai Ketua Umum DPP PWDPI. Di bawah kepemimpinannya, PWDPI terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, khususnya dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana penguatan peran wartawan dan advokasi isu-isu kerakyatan.

Saat ini, Nurullah aktif mengelola akun media sosial pribadi maupun resmi PWDPI di berbagai platform, seperti Instagram, Twitter, dan YouTube. Melalui kanal tersebut, ia secara konsisten menyuarakan berbagai isu strategis, mulai dari perlindungan nelayan, hak-hak wartawan, hingga kebijakan publik yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Media sosial adalah ruang perjuangan baru. Dengan pesan yang jelas, objektif, dan penuh empati, kita dapat menjangkau masyarakat luas dan memperkuat suara rakyat,” tegasnya.

Salah satu inisiatif yang digagasnya adalah kampanye #WartawanUntukRakyat, yang bertujuan meningkatkan kualitas liputan pers terhadap isu masyarakat bawah serta mendorong transparansi kebijakan pemerintah. Kampanye ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan, khususnya wartawan muda dan aktivis generasi baru.

Selain itu, Nurullah juga aktif menyelenggarakan edukasi daring mengenai literasi digital dan jurnalistik, guna membekali generasi muda dengan pemahaman etika serta profesionalisme dalam bermedia sosial.

“Pengalaman sebagai aktivis 1998 menanamkan semangat perubahan dalam diri saya. Media sosial kini menjadi alat untuk mewujudkan semangat itu di era digital. Harapannya, lahir generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki komitmen kuat untuk memperjuangkan kepentingan bersama,” pungkasnya.

(Tim Media Group PWDPI)

Pos terkait